|
|
Oleh :
Aji Hasanuddin
105041100523
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
TAHUN 2023/2024
Tanggapan
Sastrawan Konvensional Terhadap Sastra Digital
Kegiatan kritik sastra multimedia bisa digambarkan dari rangkaian polemik yang terjadi di antara sastrawan muda yang mendominasi tulisannya dalam multimedia dengan satrawan senior atau mereka yang lebih dahulu ada dalam kehidupan sastra Indonesia. Pada dasarnya yang dipertentangkan dua generasi itu adalah hadirnya sastra dalam internet. Loekito salah seorang penyair muda yang banyak menulis dalam internet mengatakan bahwa hadirnya sastra multimedia dapat memberikan perkembangan positif dalam kehidupan sastra Indonesia.
Perkembangan sastra dunia maya di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya kumpulan puisi berjudul Graffiti Syukur, yang diterbitkan bersama dengan Yayasan Multimedia Sastra (YMS) Perusahaan Penerbit Angkasa Bandung. Buku ini berisi puisi-puisi yang dipublikasikan di website Cybersastra. Buku ini muncul sebagai sumber perdebatan antara penulis dunia maya dan penulis yang karya sastranya banyak dimuat di media cetak. Mereka mengklaim bahwa puisi yang ditulis melalui media siber berkualitas buruk karena tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia secara bebas. Tapi sastra dunia maya menghasilkan penulis-penulis yang diciptakan oleh dunia digital. Ketika diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide, perasaan dan pemikiran yang berkaitan erat dengan peristiwa sehari-hari dan pengalaman budaya, setiap orang menjadi lebih kreatif dan budaya berkembang dari waktu ke waktu.
Faktanya, satu-satunya perbedaan antara sastra cetak dan digital adalah penggunaan media. Standar atau standar yang ditetapkan sebagai barometer sastra adalah sama. Masalah dengan adalah bahwa sastra digital tidak mengakui penjaga gerbang yang disebut editor atau editor, apakah dia berhak menyerahkan karyanya atau tidak. Berbeda dengan sastra cetak yang harus berurusan dengan penyuntingan, ia bahkan tidak dapat memenuhi misi media massa dan penerbit buku. Namun demikian, bukan tidak mungkin menemukan teks berkualitas tinggi dalam literatur digital yang melampaui karya yang dipublikasikan di media cetak.
Berbeda
dengan sastrawan muda yang menyambut positif kehadiran sastra intenet yang
penulisnya mendapat julukan digital artist atau 'seniman digital, mereka yang
tergolong sastrawan senior mencibir kehadiran sastra internet.. Muncullah
nama-nama seperti Afrizal Malna dan Hamsad Rangkuti, sastrawan senior yang
terlibat dalam polemik. Afrizal Malna seperti yang dikutip oleh MBM Gatra dan
situs Akubaca mengatakan bahwa sastra internet tidak akan berumur panjang.
Sastra internet hanyalah tren sesaat. Demikian pula yang dinyatakan oleh Hamsad
Rangkuti meskipun pernyataannya tidak setajam Afrizal Malna.
Sastrawan
yang berkibar lewat cerpen Sukri Membawa Pisau Belati itu menyampaikan
pendapatnya bahwa kehidupan sastra internet seperti yang tampak dalam Akubaca,
Bumimanusia, dan Ceritanet sampai situs-situs remaja yang menyediakan ruangan
puisi dan cerpen menandai kehidupan sastra yang tengah bergairah terutama di
kalangan muda. Meskipun demikian, lanjut Hamsad hadirnya sastra internet tidak
akan menggerus satra media cetak. Pernyataan yang senada dengan Afrizal Malna
dan Hamsad juga terdapat dalam situs-situs lain yang menyatakan bahwa sastra
internet seperti cendawan di musim hujan, tetapi kehadiran sastra intenet tidak
akan memberi pengaruh apa-apa dalam kehidupan sastra Indonesia. Sastra
Indonesia, karya dan kritiknya yang dipublikasikan dalam majalah, koran, dan
dalam bentuk buku akan terus berjalan, tidak akan mati hanya gara-gara muncul
sastra internet.
DAFTAR
PUSTAKA
https://media.neliti.com/media/publications/41672-kritik-sastra-cyber-fd420b10.pdf
https://kumparan.com/evainaa2001/sastra-di-era-digital-1x6SBUeg3xc/full
Septiningsih, Lustantini. "PENDIDIKAN KARAKTER ANAK MELALUI PEMELAJARAN SASTRA: KAJIAN TERHADAP CERITA RAKYAT."
Supriatin, Yeni Mulyani. "Kritik sastra cyber." Jurnal Sosioteknologi 11.25 (2012): 47-54.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar