Selasa, 24 Oktober 2023

 

Tanggapan Sastrawan Konvensional Terhadap Sastra Digital




 


 

 

 



 

Oleh :

Aji Hasanuddin

105041100523

 

 

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

TAHUN 2023/2024

 

 


Tanggapan Sastrawan Konvensional Terhadap Sastra Digital

Kegiatan kritik sastra multimedia bisa digambarkan dari rangkaian polemik yang terjadi di antara sastrawan muda yang mendominasi tulisannya dalam multimedia dengan satrawan senior atau mereka yang lebih dahulu ada dalam kehidupan sastra Indonesia. Pada dasarnya yang dipertentangkan dua generasi itu adalah hadirnya sastra dalam internet. Loekito salah seorang penyair muda yang banyak menulis dalam internet mengatakan bahwa hadirnya sastra multimedia dapat memberikan perkembangan positif dalam kehidupan sastra Indonesia.

Perkembangan sastra dunia maya di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya kumpulan puisi berjudul Graffiti Syukur, yang diterbitkan bersama dengan Yayasan Multimedia Sastra (YMS) Perusahaan Penerbit Angkasa Bandung. Buku ini berisi puisi-puisi yang dipublikasikan di website Cybersastra. Buku ini muncul sebagai sumber perdebatan antara penulis dunia maya dan penulis yang karya sastranya banyak dimuat di media cetak. Mereka mengklaim bahwa puisi yang ditulis melalui media siber berkualitas buruk karena tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia secara bebas. Tapi sastra dunia maya menghasilkan penulis-penulis yang diciptakan oleh dunia digital. Ketika diberi kesempatan untuk mengungkapkan ide, perasaan dan pemikiran yang berkaitan erat dengan peristiwa sehari-hari dan pengalaman budaya, setiap orang menjadi lebih kreatif dan budaya berkembang dari waktu ke waktu.

Faktanya, satu-satunya perbedaan antara sastra cetak dan digital adalah penggunaan media. Standar atau standar yang ditetapkan sebagai barometer sastra adalah sama. Masalah dengan adalah bahwa sastra digital tidak mengakui penjaga gerbang yang disebut editor atau editor, apakah dia berhak menyerahkan karyanya atau tidak. Berbeda dengan sastra cetak yang harus berurusan dengan penyuntingan, ia bahkan tidak dapat memenuhi misi media massa dan penerbit buku. Namun demikian, bukan tidak mungkin menemukan teks berkualitas tinggi dalam literatur digital yang melampaui karya yang dipublikasikan di media cetak.

Berbeda dengan sastrawan muda yang menyambut positif kehadiran sastra intenet yang penulisnya mendapat julukan digital artist atau 'seniman digital, mereka yang tergolong sastrawan senior mencibir kehadiran sastra internet.. Muncullah nama-nama seperti Afrizal Malna dan Hamsad Rangkuti, sastrawan senior yang terlibat dalam polemik. Afrizal Malna seperti yang dikutip oleh MBM Gatra dan situs Akubaca mengatakan bahwa sastra internet tidak akan berumur panjang. Sastra internet hanyalah tren sesaat. Demikian pula yang dinyatakan oleh Hamsad Rangkuti meskipun pernyataannya tidak setajam Afrizal Malna.

Sastrawan yang berkibar lewat cerpen Sukri Membawa Pisau Belati itu menyampaikan pendapatnya bahwa kehidupan sastra internet seperti yang tampak dalam Akubaca, Bumimanusia, dan Ceritanet sampai situs-situs remaja yang menyediakan ruangan puisi dan cerpen menandai kehidupan sastra yang tengah bergairah terutama di kalangan muda. Meskipun demikian, lanjut Hamsad hadirnya sastra internet tidak akan menggerus satra media cetak. Pernyataan yang senada dengan Afrizal Malna dan Hamsad juga terdapat dalam situs-situs lain yang menyatakan bahwa sastra internet seperti cendawan di musim hujan, tetapi kehadiran sastra intenet tidak akan memberi pengaruh apa-apa dalam kehidupan sastra Indonesia. Sastra Indonesia, karya dan kritiknya yang dipublikasikan dalam majalah, koran, dan dalam bentuk buku akan terus berjalan, tidak akan mati hanya gara-gara muncul sastra internet.

DAFTAR PUSTAKA

https://media.neliti.com/media/publications/41672-kritik-sastra-cyber-fd420b10.pdf

https://kumparan.com/evainaa2001/sastra-di-era-digital-1x6SBUeg3xc/full

Septiningsih, Lustantini. "PENDIDIKAN KARAKTER ANAK MELALUI PEMELAJARAN SASTRA: KAJIAN                TERHADAP CERITA RAKYAT."

Supriatin, Yeni Mulyani. "Kritik sastra cyber." Jurnal Sosioteknologi 11.25 (2012): 47-54.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar